Dreaming To The Narnia (part 2) *ff*

On Senin, 03 Januari 2011 0 komentar

Hari Minggu! Kio menguap lebar. Dia membuka gordennya. Cahaya matahari yang hangat menyinari kamarnya. “Hmm, apa yang mesti gue lakuin ya?” tanyanya sendiri. Dia mulai membuka lemari bukunya. “Boseeen elaaah, butuh novel baruuu!” ujarnya. Kio membuka laci dan mendapati kotak merah yang bertuliskan huruf “P” di tutupnya. Kio melepaskan liontinnya dan menekannya pada cetakan hati di tutup kotak. Dia membukanya. Ada beberapa pernak-pernik cewek kayak kalung, gelang, cincin, pin, bros, dan sebagainya. Tapi, tujuannya bukan untuk melihat itu. Melainkan melihat isi dibawah lapisan yang berisikan pernak-perniknya, ada alat-alat sederhana. Ada pisau lipat, kompas, kertas kecil, dan jam tangan.
Kio mendapatkan ini semua dari gudang, saat Mama memberikannya. Liontin, buku diari, dan kotak ini. Semuanya terukir huruf “P”. Kio menghela nafas, sebenernya dia gak yakin juga kenapa dia gak begitu suka kalo ada orang yang tau kepanjangan huruf “P” pada namanya. Kalo ada yang nanya aja, Kio agak sungkan buat jawab. “Kiooo?” Kotaknya terjatuh, Kio refleks merapikannya lagi. Dan mengunci kotak itu. “Iya, Mah…” jawab Kio. Dia buru-buru turun dari kamar. Ternyata Mama udah berpakaian rapi, “Kio, Mama harus…” Kio tersenyum lalu, mengangguk. “Iya, aku tau Mama pengen kerja, aku siap kok jaga rumah,” potong Kio. Mama memberikan dua lembar limapuluh ribuan. “Nah, yaah, ambillah. Buat beli buku ato terserah kamu lah…” lanjut Mamanya. Kio mengangguk. Kemudian Mama menaiki mobilnya dan melesat keluar rumah. “Oh yeaaaah!!! Yeaaaay! Beliii bukuuuu…”
***
Kio membuka engsel pintu toko tersebut. Sepi. Kosong. Kayak gak berpenghuni. “Halooo? Ada orang?” ujar Kio. Lalu, dia melesat ke rak-rak buku. Dia melihat-lihat buku. “Hmm, Harry Potter? Udah. Apaan yak?” Kio terus menelusuri buku-buku. Kemudian dia berhenti, “Perjalanan Astral? Mengeluarkan Ruh?” Kio mengambil buku yang segede bagong. Kemudian dia membaca sedikit bagian halaman depan. Tiba-tiba Kio menutup bukunya. Lalu, dia berjalan menuju perlengkapan kemah. Ada senter, tambang, tenda, dan sebagainya. Dia mengambil beberapa yang dia butuhkan. Pisau lipat baru kayaknya bagus. Dia memasukkannya ke keranjang belanjaan. Kio berjalan menuju kasir. “Haloooo? Ada orang disini?” ujar Kio. Dia meletakkan keranjangnya di meja kasir. “Haloooo?” Kio berbalik badan. “Selamat datang! Butuh apa, nona manis?” tiba-tiba suara berat menghampiri. “Eh? Mana orangnya?”
“Eheem ehem..” dehaman ibu penjaga toko. “Ah ya? Dimana?” Kio menoleh ke kanan kiri. “Maaf dek, gak bisa liat kebawah ya?” ujarnya pelan tapi menusuk. Kio salah tingkah. “Eh? Maap bu, tadi saya…” ibu penjaga toko menjalankan kursi roda otomatisnya dengan tombol. “Saya tahu kok, saya mengerti..” potongnya. “Aduuh, gak bu, maksud saya…” ucapan Kio terhenti. “Panggil saya, Leona. Lebih akrab.” Kio mengangguk. “Oke, maaf Leona, tadi maksud saya…” ucapan Kio terhenti. “Apakah kamu orang yang bawel?” tanyanya.
Kio menggeleng. “Cukup?” Kio menggeleng kembali. “Sedikit?” Kio cengengesan. “Tapi, tergantung sikon bu eh maksud saya Leo naaa..” lanjut Kio sambil tersenyum lebar. “Hmm, bagus. Saya sudah tau, kamu memang orang yang jujur. Hmm, oh iya, aku gak pernah liat kamu disini?” Kio mengangguk. “Iyaa, biasanya aku beli buku di toko sebelah. Tapi, berhubung tokonya tutup, aku kesini deh,”
“Jadi…Ini toko pelarian?” Kio melongo lalu, menggeleng cepat. “Bukan bukaaan, maksudku bukaaan itu..” ibu itu tertawa. “Sudah, lupakan. Kamu orang yang panikan. Sebenernya aku masih 20 tahun, tak perlulah dipanggil ibu. Apa tampangku setua itu ya?” tanyanya sambil memilah milih barang. “Gak kok, Leona manis,” jawab Kio sambil tersenyum. “Semuanya 56 ribu,” ujar Leona. Kio memberi uangnya dan mengambil kembalian. KREK! Tiba-tiba lampu toko padam. Leona buru-buru menyalakan senter. “Sudah terkendali, kamu pegang ya. Aku harus ke belakang,” ujarnya. “Tapi…Leona?” Leona tersenyum. “Aku bisa kok walaupun gelap,” jawabnya. Kio diam. Dia mengambil lilin dan menyalakan lilin. “Hmm, lebih baik…” ujarnya. Dia melihat arlojinya. Udah mau jam 7 malem. “Leonaaaa?” hening. Tak ada jawaban. Kio melihat arlojinya lagi. Udah lebih dari 20 menit. Gak ada jawaban. Hening. Kio memberanikan diri membawa lilinnya. Dia memasukkan senter ke dalam tasnya.
“Leonaa?” panggil Kio. Ternyata jalan ke belakang berupa beberapa anak tangga. Dinding-dindingnya berwarna cokelat tua. Sesampai di anak tangga terakhir, Kio mendapati satu pintu besar. “Leonaaaa?” panggil Kio lagi. Suasana tetap hening. Kio memberanikan diri memutar engsel pintu. “Leonaa? Kamu dimana? Apakah perlu aku bantu?” ujar Kio. Ruangan itu terlihat basah. Atau malah lebih tepatnya tidak terurus. “Alicia Kiora P. Huruf P itu? Ya, aku tahu.” suara-suara pelan terdengar. “Apakah dia? Tak mungkin! Aku tak percaya,” suara itu makin jelas. Kio merapatkan telinganya ke dinding. “Menangkapnya? Untuk? Liontinnya?” Kio menutup mulutnya. Dia memegang erat liontinnya. Ada satu pintu terbuka. Kio menutup mulutnya. Dia berlari keluar ruangan. “Dia kabuuur!”
Kio menaiki anak tangga buru-buru. Dia mengambil belanjaannya. “Hellooo, nona manis. Serahkan liontinmu!” ancam Leona. “Leona? Kamu..berdiri?” tanya Kio takut-takut. “Iyalaaah, masa nungging,” jawab Leona. Kio tercekat. “Untuk apa?” tanya Kio sambil mundur perlahan. “Serahkan saja dan kamu akan bebas,” ujar Leona. PLAK! “Ayooo, ikut aku!” Kio melongo. “Ayooo! Dia hanya pingsan! Ambil belanjaanmu!” ujarnya. Kio mengambil belanjaannya dan mengikuti langkah orang yang nyelamatin dia. “Sepeda?” tanya Kio masih agak heran. “Cepetan!” Akhirnya Kio menuruti kemauannya.
“Skandar? Lo gak ngikutin gue kayak Edward Cullen kan?” tanya Kio gak penting. “Apa?” jawab Skandar balik nanya. “Aduuuh, lo gak nonton Twilight?” tanya Kio. Skandar berhenti mengayuh. “I’m watch it,” jawab Skandar. “Eh iya, lo kok bisa tau gue disitu? Lo nguntit gue yaaa?” tebak Kio. Skandar mendelik. Lalu, menggeleng. “Insting,” jawabnya. Kio mendongak. “Gak percaya,” Skandar menaiki sepedanya. “Rumahmu udah deket, jalan sendiri bisa kan?” Kio mengangguk. “Iye iyeee, bisa gue. Tapi, btw, thanks ya,” ujar Kio. “Welcome,” jawab Skandar lalu, tersenyum. HUAAAAA BIKIN MELELEH. LUBER DAH BAK MANDI!

***
“HUAAAH..” Kio menghempaskan tubuhnya di kasur. Dia menoleh ke belanjaannya. Dia mengambil buku yang baru dia beli. Perjalanan Astral? Kio membuka halaman pertama. “Astral Projection adalah suatu keadaan dimana jiwa kita melakukan perjalanan sendiri ke tempat lain? Terpisah dari tubuh?” Kio berlari menuju laptopnya. Dia membuka google. Dia mengetik beberapa kata. “Tapi, ini bukan mimpi. Jiwa kita benar-benar ada di tempat lain. Dan melakukan aktifitas disana..” Kio mengetik lagi. Kemudian membuka link baru. “Konsentrasi tinggi. Versi asli dalam keadaan tidak sadarkan diri. Sementara versi astral bergerak kemana-mana..” Kio menghentikan bacaannya. Dia men-stabilo beberapa kalimat di buku. Kio meng-klik kanan, save as. Dia menyimpan halamannya dalam suatu folder. “Lalu, dapat menyadarkan diri baik versi asli maupun astral..”
Kio berhenti sejenak. Tiba-tiba…
“Eh iya, lo kok bisa tau gue disitu? Lo nguntit gue yaaa?” Skandar mendelik. Lalu, menggeleng. “Insting,” jawabnya.
“Versi astral bergerak kemana-mana..” “Jiwa kita berada di tempat lain..”
“WOOY!” kaget kio. “HAAAH!” Skandar tersentak. “Sorry, sorry…” Skandar mengangkat tangannya. “No, prob. I’m okaaay, haha…” “Lo semedi yak?”
“Versi asli dalam keadaan tidak sadarkan diri. Sementara versi astral bergerak kemana-mana..” “Dapat sadarkan diri, baik versi asli maupun versi astral..”
“Kenapa kamu membuat to-do-list ke Narnia? Dan aku tau kepanjangan huruf P pada namamu,”
“Jiwa kita berada di tempat lain…” “Dan kita melakukan aktifitas disana..”
Kio meng-copy data-datanya ke flash disknya. Lalu, memasukkannya ke dalam satu folder. Kio membuka kacamatanya.  ”Jadi, dia… kayak jumper gitu?”

TO BE CONTINUED….
BY : @naadyey
nb : maaap yaaaa kaloo jeleeeek aaaaaa maluuuu :p

0 komentar:

Posting Komentar