“Hey! Kenapa kau masih disitu? Jam istirahat sudah berakhir dan.. hey apa yang kau tulis?” ujar penjaga perpus bertubuh gempal. Sambil mengangkat ke atas kacamatanya dia mulai berjalan ke arah gadis itu. Secepat kilat, gadis itu menghentikan aktifitasnya. “Bukan apa-apa, Ma’am. Hanya coretan tidak penting,”
“Kau tidak membuat contekan, bukan?” tuduhan asal itu membuat gadis itu menggeleng cepat. “Bukan samasekali, hanya..” ucapan gadis itu terhenti. “Aku harus buru-buru, Ma’am. Kau sendiri yang bilang waktu istirahat sudah berhenti, bukan? Aku akan ulangan,” jawab gadis itu sedikit berbohong. “Sepertinya kau membuat contekan..” tegas penjaga perpus. “TIDAK! Maaf, aku tidak sopan. Hanya saja aku harus bergegas,” jawab gadis itu kemudian berlari. Penjaga perpus menoleh ke meja yang ditinggalkan gadis itu, “Sepertinya dia ketinggalan sesuatu..” ujarnya lalu, melihat apa yang ditinggalkannya. Sebuah novel yang sepertinya sudah sangat terkenal dan pasti banyak yang tahu. “Hmm, lalu, apa yang dia tulis? Siapa namanya?” tanyanya sendiri lalu, menuju buku pengunjung.
Alicia Kiora P.
Kio berlari menuju kelasnya. “Gila! Gue telat! Mampus lah gue!” rutuknya. Lalu, wajahnya berubah pucat. “Ah! Geblek! Bukunya ketinggalan! Ah bodo ah, nanti pulang gue ambil–” ucapannya terhenti. “Aduuuuh ojaaaaaan, penjaga itu aduuuh aduuuh…” dumelnya sendiri sampe gak sadar ada yang merhatiin daritadi. Tok Tok.. “Masuk,” ujar suara yang agak berat dari dalam kelas. Kio bisa menebak siapa yang ada di dalem. Pasti itu.. matilah dia di giling buldoser!
Kio memutar engsel pintu perlahan, rambutnya basah penuh keringat. Begitu juga dengan bajunya yang jadi basah. Akibat aksi lari maraton dari perpustakaan yang lumayan jauh dari kelasnya. “Tinggal tunggu, dan siap membersihkan toilet…” desahnya dalam hati. Tapi, sepertinya dewi fortuna lagi memihak pada Kio. Buktinya, Mrs. Bertha tersenyum lebar. “Mungkin kamu sedang beruntung, oh ya kamu?”. “Kio, Ma’am!” tukas Kio cepat. “Nak Kio sedang beruntung karena, hari ini ada murid baru, oh iya, kamu bisa duduk, dan lain kali ibu harapkan jangan telat masuk kelas…” jelas Mrs. Bertha, Kio mengangguk cepat dan berjalan ke belakang. BUK! “Ah!” Kio terjatuh karena, terselengkat kaki.
“Kenapa kamu?” tanya bu Bertha. “Gapapa, bu. Cuman, jatuh haha… saya jalan suka gak ngeliat ke bawah hehe…” jawab Kio ngeles berusaha mencari alasan. “Huh! Kamu ini, oh iya, hari ini kita kedatangan murid baru, pindahan dari luar negeri,” jelas Mrs. Bertha. Suasana kelas langsung rame, “Gue denger ituu pemaen film luar itu loh!” Brenda sokbet semangat nyeritain padahal sebenernya dia juga gak tau. “Iya, Bren? Siapa? Maen film apaan?” tanya Katrin berusaha percaya. “Itu loooh, yang perang-perangan yang pake pedang!” jawab Brenda berapi-api. Teman-temannya sedikit mencelos, yaiyalaah perang pake pedang. Banyak film kayak gitu. Kio juga berpikir keras siapa yang bakalan pindah kesini. Kayaknya agak aneh kalo ada artis sekolah disini, apalagi disini gak ada murid yang artis. Pasti bakalan pada norak.
“Aduh! Bisa spesifik gak sih, Bren? Perang? Banyak! Lo kalo ngasi tau yang spesifik ngape?” omel Amel kali ini. “Ihhh… pokoknya dia putih, ganteng, tinggi emm kayaknya sih, terus dia terkenaaal koook!!!” jelas Brenda polos. “Hadeeeeh, udahlah kita liat ajaa, si Brenda mah jelasinnya kaga perna jelas, kayak kumur-kumur!” ledek Alvin. Tawa meledek Brenda meledak. Kio mau gak mau ngikut ketawa. “Apa lo ketawa? Berhak lo ketawa? Hah!” omel Brenda terhadap Kio. Kio menutup mulutnya, salah tingkah. “Sudah sudaah, diam. Kali ini Miss perkenalkan, silahkan masuk,” ujar Mrs. Bertha. Seorang cowok masuk gugup, tapi ada sedikit senyum tersirat di wajahnya. Seisi kelas diam kemudian ribut. “Cukup cukup! Mau kalian Miss kurangi nilainya satu persatu?!” ujarnya. “Introduce yourself,” lanjutnya.
“Hello, I’m Alexander Amin Casper Keynes. I’m so sorry, I still can’t speak Indonesian well but, a little bit I can. Kalian bisa panggil saya Skandar or Skandie. Saya pindahan dari London, you know that, right? Hmm, maybe, that’s all. Is that enough, Ma’am?” tanya Skandar ke Mrs. Bertha. “I think enough for now. Kamu bisa kenalan nanti sama teman-teman kamu, mengerti? Ya, sekarang kamu duduk disitu,” jawabnya. Skandar mengangguk. Kio deg-degan. GILAAA! INI BARU PERTAMA KALI DALAM SEJARAH DIA KETEMU ARTIS IDOLANYA! Kio berkali-kali salah tingkah, gak bisa ngendaliin kakinya yang goyang-goyang terus. “Heyooo, Skandieee!! Do you know mee? I’m Brendaaa!!! Am I pretty?” tanya Brenda asal membuat murid-murid menahan tertawa. “Yeah, maybe will know you later. I think so.” jawab Skandar singkat lalu, tertawa pelan. Brenda senyum-senyum sendiri. Lalu, dia menghadap ke depan lagi. “Emang lo ngerti Bren?” tanya Katrin. “Kagak,” jawab Brenda malu-malu. GUBRAK!
“Hmm, can you help me? I haven’t that book. Can I borrow your book?” tanya Skandar kepada Kio. Kio diam. Wajahnya pucat. “Okay okay, maybe, we should share, right? Can you share with me? That book?” tanya Skandar sekali lagi. Kio tetap diam. “Ohoho, maybe, you didn’t understand, right? Da-pat-kah a-ku me-min-jam bu-ku-mu?” tanya Skandar sekali lagi berusaha berbicara bahasa indonesia. “Ohohoho, sure sure. You can take this, or maybe share with me. Hehe..” jawab Kio buru-buru. “Kamu ngerti bahasa inggris?” tanya Skandar gak percaya. Kio mengangguk. “A little bit, hehe..”
***
Kio menutup bukunya. Dia kembali mengalungkan liontin hati di lehernya. Ada ukiran huruf “P”. KREK! Kio menoleh, buru-buru dia masukkan bukunya ke dalam laci. “Mah?” Kio membuka pintu kamarnya dan berjalan pelan sambil melongo kebawah. Gak ada orang. Kosong. KREK! Kio menoleh lagi. Dia menutup pintu kamarnya. Dia mengambil kayu yang ada di bawah kasur. BUK! Buku pelajaran Kio jatuh. Kio menoleh. Dia memberanikan diri menoleh ke atas perlahan. “Kosong.. Itu cuman khayalan lo, udah sekarang lo harusnya tidur. Lo harus siap-siap ketemu Mrs. Sarah buat minta novel lo lagi. Have a nice dreaaaam,” ujar Kio sendiri lalu, menarik selimutnya. PRANG! Kio menyalakan lampunya. Kosong. Hanya saja vas bunga Kio jatuh. “Siapa?”
***
“Ini novelmu, lain kali jangan kamu tinggalkan lagi..” pesan Mrs. Sarah, si penjaga perpus. “Hahaha, sipp Ma’am!” jawab Kio tersenyum kecil. “Oh iya, apa kepanjangan P di namamu?” tanya Mrs. Sarah. Raut wajah Kio berubah, “Memangnya, Miss harus tahu? Apakah itu penting?” tanya Kio membuat Mrs. Sarah salah tingkah. “Oh, maaf maaf kalau itu membuatmu tersinggung, tidak apa-apa. Lupakan,” jelas Mrs. Sarah. “Baguslah,” jawab Kio lalu, berlari keluar. Kio menghentikan langkahnya, tiba-tiba dia berlari. “WOY!” ujar Kio mengagetkan Skandar. “HAAH…” Skandar tersentak. “Sorry, sorry…”
“No, prob. I’m okaaay haha..” jawab Skandar. “Lo barusan ngapain? Kayak semedi?” tanya Kio, sedetik kemudian dia sadar melihat Skandar bengong. “I’m forgeeet haha, what are you doing?” tanya Kio mengulanginya dalam bahasa inggris. “No, not an important job. Haha… Do you like read Narnia? Kamu suka baca Narnia?” jawab Skandar. Kio mengangguk antusias. “I like your role! And I hope can entering Narnia. Gue suka ajaa kayaknya kalo bisa kesana haha.. Oh iya, lo tau kan? Gue itu I, kalo lo itu you?” Skandar mengangguk pelan. “Bahasa gaul disini ya? Ngerti kok. And, I hope so.” jawab Skandar. “Hope for what?” tanya Kio. “Entering Narnia..”
“But, you know, right? That’s fiction. Itu cuman imajinasi. Gue juga pengen sih tapi kayaknya itu cuman imajinasi gue aja,” ujar Kio lalu, mengencangkan kuncir rambutnya. “If that’s just your imagination. Why you make the to-do-list to enter the Narnia?” jawab Skandar dan wajahnya berubah serius. Kio menoleh cepat. “Lo? Lo tau darimana?”
“Gak penting. Yang penting aku tau kamu pengen ke Narnia juga bukan? Dan kamu…” wajahnya berubah menjadi tambah tambaaah serius. “Aku tau kepanjangan dari huruf P pada namamu,” lanjutnya. Kio mangap. Tak percaya. “HAHA… Lo lucu banget ya? Pasti lo tadi semedi mikirnya ngalor-ngidul deh yak. Aduh, gue sakit perut gue pengen makan,” jawab Kio lalu, berbalik. “Oh iya, satu lagi. Di dalam to-do-list mu, pertama, bertemu Aslan dan…” ucapan Skandar berhenti. “STOP! Lo tau semua itu darimana hah?” kali ini Kio berubah menjadi serius. “Asal kamu traktir aku makan,” ujar Skandar sambil mengedipkan sebelah matanya. Kio berjalan sambil merutuki dirinya sendiri.
***
“Ya? Lo suka kan? Gue mampu nraktir cuman ini sih…” ledek Kio sambil memakan baksonya. Skandar melongo, “Kamu? Kamu ngerjain aku?”
“Kata siapa? Gak ah, orang emang gue mampunya nraktir ini doang…” jawab Kio santai sambil melahap baksonya. Skandar ngedumel pake bahasa inggris. Bodo amat kek, yang penting nraktir kan? Hihi… Kio tertawa kecil. “Terus, sekarang giliran gue. Lo tau darimana tentang to-do-list dan kepanjangan huruf P pada nama gue?” tanya Kio. Skandar berhenti ngedumel. “Itu? Ceritanya panjang…” KRING! “Thanks ya,” ujar Skandar lalu, pergi. Makanannya sama sekali belum disentuh. Dasar orang! Kio mengambil mangkuk bakso Skandar, dia menoleh ke arah Skandar. Skandar sedang dikerubungi murid-murid. Pasti deeh norak! Kio memakan baksonya buru-buru.
“Darimana dia tau itu semuanya? Dan…setau gue itu semua kan ada di buku diari gue, itu juga di rumah. Gak pernah gue bawa ke sekolah ato malah tertinggal. Apa dia..GAMUNGKIN! Mana mungkin dia ke rumah gue? Aneh banget. Ato..” Kio tiba-tiba teringat si Skandar yang barusan semedi. “Gue curiga..”
TO BE CONTINUED….
BY : @naadyey