• Imagen 1 Greyson Chance!!!
    love him so much! like his voice. can make me feel better :D recommended. hope you like him too like me. :PPPP love it!! and you can share with me about him. write in my chat box ya!
  • Imagen 2 WELCOME IN MY BLOG!
    this is me! hope you enjoy it. i love to read, blogging, and make some story. do you wanna know my story? just ask me hahaha... welcomeeee in sweety peach. Hope my story can make you smile :) U Smile I Smile :p
  • Imagen 3 Logan Lerman : My Boyfriend ;P
    this is logan lerman. how handsome he is!! i love him cause watch Percy Jackson. and now he's my boyfriend (?) ahahahah kidding. you must to read that book too. All series about Percy Jackson can become your friend when you bored.
  • Imagen 3 CNBLUE!!
    How can I life without fangirl-ing? haha. finally, kpop virus influenced me. but i don't like bb/gb. just cool rock band!
  • Imagen 3 ALL OF DRAMAS!
    I LOVE MANGA, K-DRAMA, J-DRAMA! I hope can make review of all drama. so just wait for me to make review hahhaa

SM*SH -____-

On Senin, 03 Januari 2011 0 komentar

gatau kenapa. apa yg terlintas dipikiran gue malah nulis entri baru si sm*sh huakakak... oke, kalo kalian org indonesia, pasti kalian tau sm*sh . kalo yg gatau jg gpp sih, emang blm populer banget mereka. mendingan kita liat aja dulu videonya..



hiakakaka, udah liat videonya? ngocol kaga? aduh sakit perut ini penulisnya jiakakak... ada yang ganteng ga? kalo ada komen. huakakak... gue sih sukanya ama yang nyanyi pertama, bisma (tapi disini anjir jelek banget sumpah), ama rangga. hetdah ye, ngelantur. oke oke, lanjut. gara-gara si smash pula jadi populer kata "cenat cenut" apa coba ? bisa kalian liat ato denger di lirik pertama. ada cenat cenutnya jiakak. ato di postingan ke beraapa gue ttg crazy people. juga ada. terus mereka yaa gue acungin jempol (jempol kakiii -__-V) huakak.. soalnya mereka boyband di indonesia. yg dimana indo isinya tuh ya band ini lah itulah. aliran gajelas. artis aji mumpung. dan sebagenya di kancaaah musik kita (aseeek bahasaa ueee).
tapi, dari nama hmmm... mereka kayaknya copas nama boyband luar yak? upss gaboleh ngomonginV. terus gayanya yang rata-rata sih bilang "TERINSPIRASI" hmm bahasa alus yak? bahasa kasar? gausah ah gaenak. oiya, ini juga ada video yang superduperngocol huakakak...

udah liat? ngakak? huakakaka... ga ngaakak ga normal! xD candaaaa... oiya, terus kalo diperhatiin baik-baik. pas bagian intro ato bagian awalnya agak mirip lagunya justin yang baby. tapi depannya doang. oke oke, coba kita dengerin.

pas bagian awal doang agak mirip. okelaah, sekian dah curhat gue tentang sm*sh haha.. oh iya jadi ngetren nih tulisan begini waktu itu : eh m*s* y*h gu* k*k j*d* nulis gini -______________-

hihihi... okeee, maap ya kalo ada kesalahan dalam info :)
Read more ...»

Dreaming To The Narnia (part 2) *ff*

On 0 komentar

Hari Minggu! Kio menguap lebar. Dia membuka gordennya. Cahaya matahari yang hangat menyinari kamarnya. “Hmm, apa yang mesti gue lakuin ya?” tanyanya sendiri. Dia mulai membuka lemari bukunya. “Boseeen elaaah, butuh novel baruuu!” ujarnya. Kio membuka laci dan mendapati kotak merah yang bertuliskan huruf “P” di tutupnya. Kio melepaskan liontinnya dan menekannya pada cetakan hati di tutup kotak. Dia membukanya. Ada beberapa pernak-pernik cewek kayak kalung, gelang, cincin, pin, bros, dan sebagainya. Tapi, tujuannya bukan untuk melihat itu. Melainkan melihat isi dibawah lapisan yang berisikan pernak-perniknya, ada alat-alat sederhana. Ada pisau lipat, kompas, kertas kecil, dan jam tangan.
Kio mendapatkan ini semua dari gudang, saat Mama memberikannya. Liontin, buku diari, dan kotak ini. Semuanya terukir huruf “P”. Kio menghela nafas, sebenernya dia gak yakin juga kenapa dia gak begitu suka kalo ada orang yang tau kepanjangan huruf “P” pada namanya. Kalo ada yang nanya aja, Kio agak sungkan buat jawab. “Kiooo?” Kotaknya terjatuh, Kio refleks merapikannya lagi. Dan mengunci kotak itu. “Iya, Mah…” jawab Kio. Dia buru-buru turun dari kamar. Ternyata Mama udah berpakaian rapi, “Kio, Mama harus…” Kio tersenyum lalu, mengangguk. “Iya, aku tau Mama pengen kerja, aku siap kok jaga rumah,” potong Kio. Mama memberikan dua lembar limapuluh ribuan. “Nah, yaah, ambillah. Buat beli buku ato terserah kamu lah…” lanjut Mamanya. Kio mengangguk. Kemudian Mama menaiki mobilnya dan melesat keluar rumah. “Oh yeaaaah!!! Yeaaaay! Beliii bukuuuu…”
***
Kio membuka engsel pintu toko tersebut. Sepi. Kosong. Kayak gak berpenghuni. “Halooo? Ada orang?” ujar Kio. Lalu, dia melesat ke rak-rak buku. Dia melihat-lihat buku. “Hmm, Harry Potter? Udah. Apaan yak?” Kio terus menelusuri buku-buku. Kemudian dia berhenti, “Perjalanan Astral? Mengeluarkan Ruh?” Kio mengambil buku yang segede bagong. Kemudian dia membaca sedikit bagian halaman depan. Tiba-tiba Kio menutup bukunya. Lalu, dia berjalan menuju perlengkapan kemah. Ada senter, tambang, tenda, dan sebagainya. Dia mengambil beberapa yang dia butuhkan. Pisau lipat baru kayaknya bagus. Dia memasukkannya ke keranjang belanjaan. Kio berjalan menuju kasir. “Haloooo? Ada orang disini?” ujar Kio. Dia meletakkan keranjangnya di meja kasir. “Haloooo?” Kio berbalik badan. “Selamat datang! Butuh apa, nona manis?” tiba-tiba suara berat menghampiri. “Eh? Mana orangnya?”
“Eheem ehem..” dehaman ibu penjaga toko. “Ah ya? Dimana?” Kio menoleh ke kanan kiri. “Maaf dek, gak bisa liat kebawah ya?” ujarnya pelan tapi menusuk. Kio salah tingkah. “Eh? Maap bu, tadi saya…” ibu penjaga toko menjalankan kursi roda otomatisnya dengan tombol. “Saya tahu kok, saya mengerti..” potongnya. “Aduuh, gak bu, maksud saya…” ucapan Kio terhenti. “Panggil saya, Leona. Lebih akrab.” Kio mengangguk. “Oke, maaf Leona, tadi maksud saya…” ucapan Kio terhenti. “Apakah kamu orang yang bawel?” tanyanya.
Kio menggeleng. “Cukup?” Kio menggeleng kembali. “Sedikit?” Kio cengengesan. “Tapi, tergantung sikon bu eh maksud saya Leo naaa..” lanjut Kio sambil tersenyum lebar. “Hmm, bagus. Saya sudah tau, kamu memang orang yang jujur. Hmm, oh iya, aku gak pernah liat kamu disini?” Kio mengangguk. “Iyaa, biasanya aku beli buku di toko sebelah. Tapi, berhubung tokonya tutup, aku kesini deh,”
“Jadi…Ini toko pelarian?” Kio melongo lalu, menggeleng cepat. “Bukan bukaaan, maksudku bukaaan itu..” ibu itu tertawa. “Sudah, lupakan. Kamu orang yang panikan. Sebenernya aku masih 20 tahun, tak perlulah dipanggil ibu. Apa tampangku setua itu ya?” tanyanya sambil memilah milih barang. “Gak kok, Leona manis,” jawab Kio sambil tersenyum. “Semuanya 56 ribu,” ujar Leona. Kio memberi uangnya dan mengambil kembalian. KREK! Tiba-tiba lampu toko padam. Leona buru-buru menyalakan senter. “Sudah terkendali, kamu pegang ya. Aku harus ke belakang,” ujarnya. “Tapi…Leona?” Leona tersenyum. “Aku bisa kok walaupun gelap,” jawabnya. Kio diam. Dia mengambil lilin dan menyalakan lilin. “Hmm, lebih baik…” ujarnya. Dia melihat arlojinya. Udah mau jam 7 malem. “Leonaaaa?” hening. Tak ada jawaban. Kio melihat arlojinya lagi. Udah lebih dari 20 menit. Gak ada jawaban. Hening. Kio memberanikan diri membawa lilinnya. Dia memasukkan senter ke dalam tasnya.
“Leonaa?” panggil Kio. Ternyata jalan ke belakang berupa beberapa anak tangga. Dinding-dindingnya berwarna cokelat tua. Sesampai di anak tangga terakhir, Kio mendapati satu pintu besar. “Leonaaaa?” panggil Kio lagi. Suasana tetap hening. Kio memberanikan diri memutar engsel pintu. “Leonaa? Kamu dimana? Apakah perlu aku bantu?” ujar Kio. Ruangan itu terlihat basah. Atau malah lebih tepatnya tidak terurus. “Alicia Kiora P. Huruf P itu? Ya, aku tahu.” suara-suara pelan terdengar. “Apakah dia? Tak mungkin! Aku tak percaya,” suara itu makin jelas. Kio merapatkan telinganya ke dinding. “Menangkapnya? Untuk? Liontinnya?” Kio menutup mulutnya. Dia memegang erat liontinnya. Ada satu pintu terbuka. Kio menutup mulutnya. Dia berlari keluar ruangan. “Dia kabuuur!”
Kio menaiki anak tangga buru-buru. Dia mengambil belanjaannya. “Hellooo, nona manis. Serahkan liontinmu!” ancam Leona. “Leona? Kamu..berdiri?” tanya Kio takut-takut. “Iyalaaah, masa nungging,” jawab Leona. Kio tercekat. “Untuk apa?” tanya Kio sambil mundur perlahan. “Serahkan saja dan kamu akan bebas,” ujar Leona. PLAK! “Ayooo, ikut aku!” Kio melongo. “Ayooo! Dia hanya pingsan! Ambil belanjaanmu!” ujarnya. Kio mengambil belanjaannya dan mengikuti langkah orang yang nyelamatin dia. “Sepeda?” tanya Kio masih agak heran. “Cepetan!” Akhirnya Kio menuruti kemauannya.
“Skandar? Lo gak ngikutin gue kayak Edward Cullen kan?” tanya Kio gak penting. “Apa?” jawab Skandar balik nanya. “Aduuuh, lo gak nonton Twilight?” tanya Kio. Skandar berhenti mengayuh. “I’m watch it,” jawab Skandar. “Eh iya, lo kok bisa tau gue disitu? Lo nguntit gue yaaa?” tebak Kio. Skandar mendelik. Lalu, menggeleng. “Insting,” jawabnya. Kio mendongak. “Gak percaya,” Skandar menaiki sepedanya. “Rumahmu udah deket, jalan sendiri bisa kan?” Kio mengangguk. “Iye iyeee, bisa gue. Tapi, btw, thanks ya,” ujar Kio. “Welcome,” jawab Skandar lalu, tersenyum. HUAAAAA BIKIN MELELEH. LUBER DAH BAK MANDI!

***
“HUAAAH..” Kio menghempaskan tubuhnya di kasur. Dia menoleh ke belanjaannya. Dia mengambil buku yang baru dia beli. Perjalanan Astral? Kio membuka halaman pertama. “Astral Projection adalah suatu keadaan dimana jiwa kita melakukan perjalanan sendiri ke tempat lain? Terpisah dari tubuh?” Kio berlari menuju laptopnya. Dia membuka google. Dia mengetik beberapa kata. “Tapi, ini bukan mimpi. Jiwa kita benar-benar ada di tempat lain. Dan melakukan aktifitas disana..” Kio mengetik lagi. Kemudian membuka link baru. “Konsentrasi tinggi. Versi asli dalam keadaan tidak sadarkan diri. Sementara versi astral bergerak kemana-mana..” Kio menghentikan bacaannya. Dia men-stabilo beberapa kalimat di buku. Kio meng-klik kanan, save as. Dia menyimpan halamannya dalam suatu folder. “Lalu, dapat menyadarkan diri baik versi asli maupun astral..”
Kio berhenti sejenak. Tiba-tiba…
“Eh iya, lo kok bisa tau gue disitu? Lo nguntit gue yaaa?” Skandar mendelik. Lalu, menggeleng. “Insting,” jawabnya.
“Versi astral bergerak kemana-mana..” “Jiwa kita berada di tempat lain..”
“WOOY!” kaget kio. “HAAAH!” Skandar tersentak. “Sorry, sorry…” Skandar mengangkat tangannya. “No, prob. I’m okaaay, haha…” “Lo semedi yak?”
“Versi asli dalam keadaan tidak sadarkan diri. Sementara versi astral bergerak kemana-mana..” “Dapat sadarkan diri, baik versi asli maupun versi astral..”
“Kenapa kamu membuat to-do-list ke Narnia? Dan aku tau kepanjangan huruf P pada namamu,”
“Jiwa kita berada di tempat lain…” “Dan kita melakukan aktifitas disana..”
Kio meng-copy data-datanya ke flash disknya. Lalu, memasukkannya ke dalam satu folder. Kio membuka kacamatanya.  ”Jadi, dia… kayak jumper gitu?”

TO BE CONTINUED….
BY : @naadyey
nb : maaap yaaaa kaloo jeleeeek aaaaaa maluuuu :p
Read more ...»

Dreaming To The Narnia (part 1) *fanfiction*

On 1 komentar

“Hey! Kenapa kau masih disitu? Jam istirahat sudah berakhir dan.. hey apa yang kau tulis?” ujar penjaga perpus bertubuh gempal. Sambil mengangkat ke atas kacamatanya dia mulai berjalan ke arah gadis itu. Secepat kilat, gadis itu menghentikan aktifitasnya. “Bukan apa-apa, Ma’am. Hanya coretan tidak penting,”
“Kau tidak membuat contekan, bukan?” tuduhan asal itu membuat gadis itu menggeleng cepat. “Bukan samasekali, hanya..” ucapan gadis itu terhenti. “Aku harus buru-buru, Ma’am. Kau sendiri yang bilang waktu istirahat sudah berhenti, bukan? Aku akan ulangan,” jawab gadis itu sedikit berbohong. “Sepertinya kau membuat contekan..” tegas penjaga perpus. “TIDAK! Maaf, aku tidak sopan. Hanya saja aku harus bergegas,” jawab gadis itu kemudian berlari. Penjaga perpus menoleh ke meja yang ditinggalkan gadis itu, “Sepertinya dia ketinggalan sesuatu..” ujarnya lalu, melihat apa yang ditinggalkannya. Sebuah novel yang sepertinya sudah sangat terkenal dan pasti banyak yang tahu. “Hmm, lalu, apa yang dia tulis? Siapa namanya?” tanyanya sendiri lalu, menuju buku pengunjung.
Alicia Kiora P.
Kio berlari menuju kelasnya. “Gila! Gue telat! Mampus lah gue!” rutuknya. Lalu, wajahnya berubah pucat. “Ah! Geblek! Bukunya ketinggalan! Ah bodo ah, nanti pulang gue ambil–” ucapannya terhenti. “Aduuuuh ojaaaaaan, penjaga itu aduuuh aduuuh…” dumelnya sendiri sampe gak sadar ada yang merhatiin daritadi. Tok Tok.. “Masuk,” ujar suara yang agak berat dari dalam kelas. Kio bisa menebak siapa yang ada di dalem. Pasti itu.. matilah dia di giling buldoser!
Kio memutar engsel pintu perlahan, rambutnya basah penuh keringat. Begitu juga dengan bajunya yang jadi basah. Akibat aksi lari maraton dari perpustakaan yang lumayan jauh dari kelasnya. “Tinggal tunggu, dan siap membersihkan toilet…” desahnya dalam hati. Tapi, sepertinya dewi fortuna lagi memihak pada Kio. Buktinya, Mrs. Bertha tersenyum lebar. “Mungkin kamu sedang beruntung, oh ya kamu?”. “Kio, Ma’am!” tukas Kio cepat. “Nak Kio sedang beruntung karena, hari ini ada murid baru, oh iya, kamu bisa duduk, dan lain kali ibu harapkan jangan telat masuk kelas…” jelas Mrs. Bertha, Kio mengangguk cepat dan berjalan ke belakang. BUK! “Ah!” Kio terjatuh karena, terselengkat kaki.
“Kenapa kamu?” tanya bu Bertha. “Gapapa, bu. Cuman, jatuh haha… saya jalan suka gak ngeliat ke bawah hehe…” jawab Kio ngeles berusaha mencari alasan. “Huh! Kamu ini, oh iya, hari ini kita kedatangan murid baru, pindahan dari luar negeri,” jelas Mrs. Bertha. Suasana kelas langsung rame, “Gue denger ituu pemaen film luar itu loh!” Brenda sokbet semangat nyeritain padahal sebenernya dia juga gak tau. “Iya, Bren? Siapa? Maen film apaan?” tanya Katrin berusaha percaya. “Itu loooh, yang perang-perangan yang pake pedang!” jawab Brenda berapi-api. Teman-temannya sedikit mencelos, yaiyalaah perang pake pedang. Banyak film kayak gitu. Kio juga berpikir keras siapa yang bakalan pindah kesini. Kayaknya agak aneh kalo ada artis sekolah disini, apalagi disini gak ada murid yang artis. Pasti bakalan pada norak.
“Aduh! Bisa spesifik gak sih, Bren? Perang? Banyak! Lo kalo ngasi tau yang spesifik ngape?” omel Amel kali ini. “Ihhh… pokoknya dia putih, ganteng, tinggi emm kayaknya sih, terus dia terkenaaal koook!!!” jelas Brenda polos. “Hadeeeeh, udahlah kita liat ajaa, si Brenda mah jelasinnya kaga perna jelas, kayak kumur-kumur!” ledek Alvin. Tawa meledek Brenda meledak. Kio mau gak mau ngikut ketawa. “Apa lo ketawa? Berhak lo ketawa? Hah!” omel Brenda terhadap Kio. Kio menutup mulutnya, salah tingkah. “Sudah sudaah, diam. Kali ini Miss perkenalkan, silahkan masuk,” ujar Mrs. Bertha. Seorang cowok masuk gugup, tapi ada sedikit senyum tersirat di wajahnya. Seisi kelas diam kemudian ribut. “Cukup cukup! Mau kalian Miss kurangi nilainya satu persatu?!” ujarnya. “Introduce yourself,” lanjutnya.
“Hello, I’m Alexander Amin Casper Keynes. I’m so sorry, I still can’t speak Indonesian well but, a little bit I can. Kalian bisa panggil saya Skandar or Skandie. Saya pindahan dari London, you know that, right? Hmm, maybe, that’s all. Is that enough, Ma’am?” tanya Skandar ke Mrs. Bertha. “I think enough for now. Kamu bisa kenalan nanti sama teman-teman kamu, mengerti? Ya, sekarang kamu duduk disitu,” jawabnya. Skandar mengangguk. Kio deg-degan. GILAAA! INI BARU PERTAMA KALI DALAM SEJARAH DIA KETEMU ARTIS IDOLANYA! Kio berkali-kali salah tingkah, gak bisa ngendaliin kakinya yang goyang-goyang terus. “Heyooo, Skandieee!! Do you know mee? I’m Brendaaa!!! Am I pretty?” tanya Brenda asal membuat murid-murid menahan tertawa. “Yeah, maybe will know you later. I think so.” jawab Skandar singkat lalu, tertawa pelan. Brenda senyum-senyum sendiri. Lalu, dia menghadap ke depan lagi. “Emang lo ngerti Bren?” tanya Katrin. “Kagak,” jawab Brenda malu-malu. GUBRAK!
“Hmm, can you help me? I haven’t that book. Can I borrow your book?” tanya Skandar kepada Kio. Kio diam. Wajahnya pucat. “Okay okay, maybe, we should share, right? Can you share with me? That book?” tanya Skandar sekali lagi. Kio tetap diam. “Ohoho, maybe, you didn’t understand, right? Da-pat-kah a-ku me-min-jam bu-ku-mu?” tanya Skandar sekali lagi berusaha berbicara bahasa indonesia. “Ohohoho, sure sure. You can take this, or maybe share with me. Hehe..” jawab Kio buru-buru. “Kamu ngerti bahasa inggris?” tanya Skandar gak percaya. Kio mengangguk. “A little bit, hehe..”
***
Kio menutup bukunya. Dia kembali mengalungkan liontin hati di lehernya. Ada ukiran huruf “P”. KREK! Kio menoleh, buru-buru dia masukkan bukunya ke dalam laci. “Mah?” Kio membuka pintu kamarnya dan berjalan pelan sambil melongo kebawah. Gak ada orang. Kosong. KREK! Kio menoleh lagi. Dia menutup pintu kamarnya. Dia mengambil kayu yang ada di bawah kasur. BUK! Buku pelajaran Kio jatuh. Kio menoleh. Dia memberanikan diri menoleh ke atas perlahan. “Kosong.. Itu cuman khayalan lo, udah sekarang lo harusnya tidur. Lo harus siap-siap ketemu Mrs. Sarah buat minta novel lo lagi. Have a nice dreaaaam,” ujar Kio sendiri lalu, menarik selimutnya. PRANG! Kio menyalakan lampunya. Kosong. Hanya saja vas bunga Kio jatuh. “Siapa?”
***
“Ini novelmu, lain kali jangan kamu tinggalkan lagi..” pesan Mrs. Sarah, si penjaga perpus. “Hahaha, sipp Ma’am!” jawab Kio tersenyum kecil. “Oh iya, apa kepanjangan P di namamu?” tanya Mrs. Sarah. Raut wajah Kio berubah, “Memangnya, Miss harus tahu? Apakah itu penting?” tanya Kio membuat Mrs. Sarah salah tingkah. “Oh, maaf maaf kalau itu membuatmu tersinggung, tidak apa-apa. Lupakan,” jelas Mrs. Sarah. “Baguslah,” jawab Kio lalu, berlari keluar. Kio menghentikan langkahnya, tiba-tiba dia berlari. “WOY!” ujar Kio mengagetkan Skandar. “HAAH…” Skandar tersentak. “Sorry, sorry…”
“No, prob. I’m okaaay haha..” jawab Skandar. “Lo barusan ngapain? Kayak semedi?” tanya Kio, sedetik kemudian dia sadar melihat Skandar bengong. “I’m forgeeet haha, what are you doing?” tanya Kio mengulanginya dalam bahasa inggris. “No, not an important job. Haha… Do you like read Narnia? Kamu suka baca Narnia?” jawab Skandar. Kio mengangguk antusias. “I like your role! And I hope can entering Narnia. Gue suka ajaa kayaknya kalo bisa kesana haha.. Oh iya, lo tau kan? Gue itu I, kalo lo itu you?” Skandar mengangguk pelan. “Bahasa gaul disini ya? Ngerti kok. And, I hope so.” jawab Skandar. “Hope for what?” tanya Kio. “Entering Narnia..”
“But, you know, right? That’s fiction. Itu cuman imajinasi. Gue juga pengen sih tapi kayaknya itu cuman imajinasi gue aja,” ujar Kio lalu, mengencangkan kuncir rambutnya. “If that’s just your imagination. Why you make the to-do-list to enter the Narnia?” jawab Skandar dan wajahnya berubah serius. Kio menoleh cepat. “Lo? Lo tau darimana?”
“Gak penting. Yang penting aku tau kamu pengen ke Narnia juga bukan? Dan kamu…” wajahnya berubah menjadi tambah tambaaah serius. “Aku tau kepanjangan dari huruf P pada namamu,” lanjutnya. Kio mangap. Tak percaya. “HAHA… Lo lucu banget ya? Pasti lo tadi semedi mikirnya ngalor-ngidul deh yak. Aduh, gue sakit perut gue pengen makan,” jawab Kio lalu, berbalik. “Oh iya, satu lagi. Di dalam to-do-list mu, pertama, bertemu Aslan dan…” ucapan Skandar berhenti. “STOP! Lo tau semua itu darimana hah?” kali ini Kio berubah menjadi serius. “Asal kamu traktir aku makan,” ujar Skandar sambil mengedipkan sebelah matanya. Kio berjalan sambil merutuki dirinya sendiri.
***
“Ya? Lo suka kan? Gue mampu nraktir cuman ini sih…” ledek Kio sambil memakan baksonya. Skandar melongo, “Kamu? Kamu ngerjain aku?”
“Kata siapa? Gak ah, orang emang gue mampunya nraktir ini doang…” jawab Kio santai sambil melahap baksonya. Skandar ngedumel pake bahasa inggris. Bodo amat kek, yang penting nraktir kan? Hihi… Kio tertawa kecil. “Terus, sekarang giliran gue. Lo tau darimana tentang to-do-list dan kepanjangan huruf P pada nama gue?” tanya Kio. Skandar berhenti ngedumel. “Itu? Ceritanya panjang…” KRING! “Thanks ya,” ujar Skandar lalu, pergi. Makanannya sama sekali belum disentuh. Dasar orang! Kio mengambil mangkuk bakso Skandar, dia menoleh ke arah Skandar. Skandar sedang dikerubungi murid-murid. Pasti deeh norak! Kio memakan baksonya buru-buru.
“Darimana dia tau itu semuanya? Dan…setau gue itu semua kan ada di buku diari gue, itu juga di rumah. Gak pernah gue bawa ke sekolah ato malah tertinggal. Apa dia..GAMUNGKIN! Mana mungkin dia ke rumah gue? Aneh banget. Ato..” Kio tiba-tiba teringat si Skandar yang barusan semedi. “Gue curiga..”
TO BE CONTINUED….
BY : @naadyey
Read more ...»

perjalanan skandar!! huaaaah bikin ENVY!!!

On 0 komentar

hohoho.... akhirnya gue nulis entri lagi. pas liat entri baru, gue bingung mau nulis apa. tapi berkat gue habis buka blognya skandarians. gue jadi tau mau nulis apa deeeh huahaha

oh iya, ini gue copas dari blognya skandarians.blogspot.com kalo mau liat lebih lanjut sok atuh buka aja blognya. huaaaaa... gue bener-bener iri ama skandar!! coba aja gue kayak skandar 0:)


Pengalaman yang Tidak Terlupakan

Hello Skandarians!
jadi, berikut ini adalah karangan Skandar ketika audisi Narnia dan bagaimana senangnya dia saat itu (asli buatan dia sendiri lhooo). Okay there it goes.........

Pas bulan Januari, aku mengikuti audisi ‘The Lion, The Witch, and the Wardrobe’ di gereja yang disewakan. Aku bisa dibilang orang paling terakhir diaudisi dikarenakan kedatanganku yang telat, disebabkan oleh macet yang luar biasa, jadi sudah tinggal 5 menit lagi sebelum audisi benar-benar ditutup, dan itu berarti aku harus diaudisi di lift dan di tangga. Aku ingat waktu itu aku ditanya pertanyaan seperti ‘Kamu sekolah dimana?’ atau ‘Kamu ngapain aja di waktu luang?’ – ya semacam pertanyaan yang menurutku mereka ingin tahu seperti apakah dirumu. Untungnya mereka suka aku dan aku bisa ke tahap selanjutnya.

Di hari Senin, ada semacam workshop dimana banyak sekali orang-orang yang diaudisi untuk peran yang sama denganku. Dikarenakan alasan inilah, aku benar-benar gelisah. Kami diharuskan untuk bergabung dalam suatku kelompok dan melakukan latihan dan improvisasi. Walaupun gelisah, untungnya semua berjalan lancar untukku dikarenakan aku diberikan script dan akan dipanggil lagi untuk memainkan script itu untuk keesokan harinya bersama 3 anak yang lain. Aku suka script-nya – karakterku itu sangat lucu dan mempunyai sarcastic sense of humour.

Di hari rabu-nya, audisi berlangsung dari jam 2 siang – (ya, aku harus bolos kelas siang) – sampai dengan jam 8 malam. Setelah itu aku pulang ke rumah dan beristirahat. Bagusnya lagi, mereka menelponku untuk kembali lagi di hari sabtu dan bertemu sutradara dan memainkan beberapa scene yang ada di script tersebut. Jadi ya untuk tahap itu, bisa dibilang filming untuk seharian penuh di warehouse studio. Aku mengenakan kostum dan ditempatkan di tempat syuting bersama anak-anak yang lain dan mereka menyorotku dengan kamera dan cahaya yang bagus. Itu benar-benar pengalaman yang menyenangkan untukku. Jadi ketika aku pulang-pun, aku tidak merasa ada beban juga walaupun misalnya aku tidak mendapat bagian untuk peran tersebut – nggak deng boong!

Pas hari jumat pagi, aku dalam perjalanan menuju sekolah naik bus dan waktu itu sedang hujan deras – benar-benar bukan waktu yang bagus. Handphoneku sudah mau sekarat baterainya dan tiba-tiba aku menerima telepon. Cepat-cepat aku mengangkatnya. Ternyata sang sutradara meneleponku dari New Zealand dan bilang kalau aku dapat peran tersebut! Aku akan syuting selama enam buan di New Zealand dan 3 minggu lagi pada bulan Januari. Sekolah tidak akan pernah seindah itu jika dia tidak menelepon.

nah, ini gue hasil copas huaha.. kalo mau tau lebih lanjut buka aja skandarians.blogspot.com. hehehe... dan lo bakalan iri kalo habis baca ceritanya skandar ini. terus dia orangnya lucuuuuu ahhh jadi pengeeeen punya cowo kaya diaaaaa ulalalla~
Read more ...»